<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Catatan Kecil</title>
	<atom:link href="http://arofah89.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://arofah89.wordpress.com</link>
	<description>untuk mengingat ilmu yang paling besar</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Mar 2009 17:13:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='arofah89.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Catatan Kecil</title>
		<link>http://arofah89.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://arofah89.wordpress.com/osd.xml" title="Catatan Kecil" />
	<atom:link rel='hub' href='http://arofah89.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Dalam Labuhan Lembutnya Kasihmu</title>
		<link>http://arofah89.wordpress.com/2009/03/26/dalam-labuhan-lembutnya-kasihmu/</link>
		<comments>http://arofah89.wordpress.com/2009/03/26/dalam-labuhan-lembutnya-kasihmu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Mar 2009 17:13:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arofah89</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga Sakinah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arofah89.wordpress.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&#38;id_online=158<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arofah89.wordpress.com&amp;blog=6888714&amp;post=37&amp;subd=arofah89&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Penulis : Ummu Ishaq Zulfa Husein</em></p>
<p><span class="fnu">Suami adalah nahkoda dalam bahtera rumah tangga, demikian syariat telah menetapkan. Dengan kesempurnaan hikmah-Nya, Allah ta`ala telah mengangkat suami sebagai <em>qawwam </em>(pemimpin).</span></p>
<p style="line-height:350%;" align="right"><span style="font-family:Traditional Arabic;font-size:x-large;">الرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلىَ النِّسَاءِ<br />
</span></p>
<p>”Kaum pria adalah <em>qawwam </em>bagi kaum wanita….” (<strong>An-Nisa: 34</strong>)<br />
Suamilah yang kelak akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah ta`ala tentang keluarganya, sebagaimana diberitakan oleh Rasul yang mulia<em> shallallahu alaihi wasallam</em>:
</p>
<p style="line-height:350%;" align="right"><span style="font-family:Traditional Arabic;font-size:x-large;">اَلرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْهُمْ</span></p>
<p>“<em>Laki-laki (suami) adalah pemimpin bagi keluarganya dan kelak ia akan ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang mereka.</em>” (<strong>Shahih, HR. Al-Bukhari</strong> no. 2554 dan <strong>Muslim </strong>no. 1829)</p>
<p><span class="fnu">Dalam menjalankan fungsinya ini, seorang suami tidak boleh bersikap masa bodoh, keras, kaku dan kasar terhadap keluarganya. Bahkan sebaliknya, ia harus mengenakan perhiasan akhlak yang mulia, penuh kelembutan, dan kasih sayang. Meski pada dasarnya ia adalah seorang yang berwatak keras dan kaku, namun ketika berinteraksi dengan orang lain, terlebih lagi dengan istri dan anak-anaknya, ia harus bisa bersikap lunak agar mereka tidak menjauh dan berpaling. Dan sikap lemah lembut ini merupakan rahmat dari Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> sebagaimana kalam-Nya ketika memuji Rasul-Nya yang mulia:</span></p>
<p style="line-height:350%;" align="right"><span style="font-family:Traditional Arabic;font-size:x-large;">فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظاًّ غَلِيْظَ الْقَلْبِ لاَنْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ</span></p>
<p>“<em>Karena disebabkan rahmat Allah lah engkau dapat bersikap lemah lembut dan lunak kepada mereka. Sekiranya engkau itu adalah seorang yang kaku, keras lagi berhati kasar, tentu mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu</em>.” (<strong>Ali ‘Imran: 159</strong>)</p>
<p>Dalam tanzil-Nya, Allah <em>Subhanahu wa Ta`ala</em> juga memerintahkan seorang suami untuk bergaul dengan istrinya dengan cara yang baik.</p>
<p style="line-height:350%;" align="right"><span style="font-family:Traditional Arabic;font-size:x-large;">وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ</span></p>
<p>“<em>Dan bergaullah dengan mereka (para istri) dengan cara yang baik</em>.” (<strong>An-Nisa: 19</strong>)</p>
<p><strong>Al-Hafidz Ibnu Katsir</strong> <em>rahimahullah </em>ketika menafsirkan ayat di atas, menyatakan: “Yakni perindah ucapan kalian terhadap mereka (para istri) dan perbagus perbuatan dan penampilan kalian sesuai kadar kemampuan. Sebagaimana engkau menyukai bila ia (istri) berbuat demikian, maka engkau (semestinya) juga berbuat hal yang sama. Allah <em>Ta`ala </em>berfirman dalam hal ini:</p>
<p style="line-height:350%;" align="right"><span style="font-family:Traditional Arabic;font-size:x-large;">وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِيْ عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوْفِ</span></p>
<p>“<em>Dan para istri memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma`ruf.</em>” (<strong>Al-Baqarah: 228</strong>)</p>
<p>Rasulullah<em> Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> sendiri telah bersabda:</p>
<p style="line-height:350%;" align="right"><span style="font-family:Traditional Arabic;font-size:x-large;">خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ, وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِيْ</span></p>
<p>“<em>Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya (istrinya). Dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku (istriku).</em>”</p>
<p>Termasuk akhlak Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em>, beliau sangat baik hubungannya dengan para istrinya. Wajahnya senantiasa berseri-seri, suka bersenda gurau dan bercumbu rayu dengan istri, bersikap lembut terhadap mereka dan melapangkan mereka dalam hal nafkah serta tertawa bersama istri-istrinya. Sampai-sampai, beliau pernah mengajak ‘Aisyah Ummul Mukminin berlomba, untuk menunjukkan cinta dan kasih sayang beliau terhadapnya.” (<strong>Tafsir Ibnu Katsir</strong>, 1/477)</p>
<p>Masih menurut <strong>Al-Hafidz Ibnu Katsir</strong>: “(Termasuk cara Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> dalam memperlakukan para istrinya secara baik) setiap malam beliau biasa mengumpulkan para istrinya di rumah istri yang mendapat giliran malam itu. Hingga terkadang pada sebagian waktu, beliau dapat makan malam bersama mereka. Setelah itu, masing-masing istrinya pun kembali ke rumah. Beliau pernah tidur bersama salah seorang istrinya dalam satu pakaian. Beliau meletakkan rida (semacam pakaian ihram bagian atas)-nya dari kedua pundaknya, dan tidur dengan kain/ sarung. Dan biasanya setelah shalat ‘Isya, beliau <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> masuk rumah dan berbincang-bincang sejenak dengan istrinya sebelum tidur guna menyenangkan mereka. (<strong>Tafsir Ibnu Katsir</strong>, 1/477)</p>
<p>Demikian yang diperbuat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>, seorang Rasul pilihan, pemimpin umat, sekaligus seorang suami dan pemimpin dalam rumah tangganya. Kita dapati petikan kisah beliau dengan keluarganya, sarat dengan kelembutan dan kemuliaan akhlak. Sementara kita diperintah untuk menjadikan beliau sebagai contoh teladan.</p>
<p style="line-height:350%;" align="right"><span style="font-family:Traditional Arabic;font-size:x-large;">لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْراً</span></p>
<p>“<em>Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah contoh yang baik bagi orang yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah dan hari akhir. Dan dia banyak mengingat Allah</em>.” (<strong>Al-Ahzab: 21</strong>)</p>
<p>Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa`di <em>rahimahullah </em>berkata: “Ayat Allah <em>Ta`ala</em>:</p>
<p style="line-height:350%;" align="right"><span style="font-family:Traditional Arabic;font-size:x-large;"> وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ</span></p>
<p>(Dan bergaullah dengan mereka (para istri) dengan cara yang ma`ruf) meliputi pergaulan dalam bentuk ucapan dan perbuatan. Karena itu, sepantasnya bagi suami untuk mempergauli istrinya dengan cara yang ma`ruf, menemani dan menyertai (hari-hari bersamanya) dengan baik, menahan gangguan terhadapnya (tidak menyakitinya), mencurahkan kebaikan dan memperbagus hubungan dengannya, termasuk dalam hal ini pemberian nafkah, pakaian dan semisalnya. Dan hal ini berbeda-beda sesuai dengan perbedaan keadaan.” (<strong>Taisir Al-Karimirir Rahman</strong>, hal. 172)</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu alaihi wasallam</em> sendiri menjadikan ukuran kebaikan seseorang bila ia dapat bersikap baik terhadap istrinya. Beliau pernah bersabda:</p>
<p style="line-height:350%;" align="right"><span style="font-family:Traditional Arabic;font-size:x-large;">أَكْمَلُ المُؤْمِنِيْنَ  إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنَسَائِهِمْ</span></p>
<p>“<em>Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya di antara mereka. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya</em>.” (<strong>HR. Ahmad</strong> 2/527, <strong>At-Tirmidzi</strong> no. 1172. Dihasankan oleh Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam <strong>Ash-Shahihul Musnad</strong>, 2/336-337)</p>
<p>Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> menyatakan:</p>
<p style="line-height:350%;" align="right"><span style="font-family:Traditional Arabic;font-size:x-large;">خِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنَسَائِهِمْ</span></p>
<p>karena para istri adalah makhluk Allah yang lemah sehingga sepantasnya menjadi tempat curahan kasih sayang. (<strong>Tuhfatul Ahwadzi</strong>, 4/273)</p>
<p>Di sisi lain, beliau<em> shallallahu alaihi wasallam</em> memerintahkan untuk berhias dengan kelembutan, sebagaimana tuntunan beliau kepada istrinya Aisyah:</p>
<p style="line-height:350%;" align="right"><span style="font-family:Traditional Arabic;font-size:x-large;">عَلَيْكِ بِالرِّفْقِ</span></p>
<p>“<em>Hendaklah engkau bersikap lembut</em> .” (<strong>Shahih</strong>, <strong>HR. Muslim</strong> no. 2594)</p>
<p>Dan beliau <em>shallallahu alaihi wasallam</em> menyatakan:</p>
<p style="line-height:350%;" align="right"><span style="font-family:Traditional Arabic;font-size:x-large;">إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُوْنَ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ</span></p>
<p>“<em>Sesungguhnya kelembutan itu tidaklah ada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya (menjadikan sesuatu itu indah). Dan tidaklah dihilangkan kelembutan itu dari sesuatu melainkan akan memperjeleknya</em>.” (<strong>Shahih, HR. Muslim</strong> no. 2594)</p>
<p style="line-height:350%;" align="right"><span style="font-family:Traditional Arabic;font-size:x-large;">إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي اْلأَمْرِ كُلِّهِ</span></p>
<p>“<em>Sesungguhnya Allah mencintai kelembutan dalam segala hal</em>.” (<strong>Shahih, HR. Al-Bukhari</strong> no. 6024)</p>
<p style="line-height:350%;" align="right"><span style="font-family:Traditional Arabic;font-size:x-large;">وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لاَ يُعْطِي عَلَى سِوَاهُ</span></p>
<p>“<em>Dan Allah memberikan kepada sikap lembut itu dengan apa yang tidak Dia berikan kepada sikap kaku/ kasar dan dengan apa yang tidak Dia berikan kepada selainnya</em>.” (<strong>Shahih, HR. Muslim</strong> no. 2593)</p>
<p><strong>Al-Imam An-Nawawi</strong> <em>rahimahullah </em>berkata: “Dalam hadits-hadits ini menunjukkan keutamaan sikap lemah lembut (<em>ar-rifq </em>dengan makna yang telah disebutkan, red) dan penekanan untuk berakhlak dengannya. Serta celaan terhadap sikap keras, kaku, dan bengis. Kelembutan merupakan sebab setiap kebaikan. Yang dimaksud dengan Allah memberikan kepada sikap lembut ini adalah Allah memberikan pahala atasnya dengan pahala yang tidak diberikan kepada selainnya.</p>
<p>Al-Qadhi berkata: “Maknanya dengan kebaikan tersebut akan dimudahkan tercapainya tujuan-tujuan yang diinginkan dan akan dimudahkan segala tuntutan, maksud dan tujuan yang ada. Di mana hal ini tidak dimudahkan dan tidak disediakan untuk yang selainnya.” (<strong>Syarah Shahih Muslim</strong>, 16/145)</p>
<p>Dalam hubungan dengan istri dan keluarga, seorang suami harus membiasakan diri dengan sifat rifq ini. Termasuk kelembutan seorang suami ialah bila ia menyempatkan untuk bercanda dan bersenda gurau dengan istrinya. Hal ini dilakukan Rasulullah <em>shallallahu alaihi wasallam</em> dengan istrinya sebagaimana dinukilkan di atas. ‘Aisyah <em>radhiallahu anha</em> menceritakan apa yang ia alami dengan suami dan kekasihnya yang mulia. Dalam sebuah safar (perjalanan), Rasulullah <em>shallallahu alaihi wasallam</em> bersabda kepada para shahabatnya:</p>
<p>“Majulah kalian (jalan duluan)”. Maka mereka pun berjalan mendahului beliau. Lalu beliau berkata kepada ‘Aisyah (yang ketika itu masih belia dan langsing):</p>
<p>“Ayo, kita berlomba lari”. Kata Aisyah: “Akupun berlomba bersama beliau dan akhirnya dapat mendahului beliau”. Waktupun berlalu. Ketika Aisyah telah gemuk, Rasulullah kembali mengajaknya berlomba dalam satu safar yang beliau lakukan bersama ‘Aisyah. Beliau bersabda kepada para shahabatnya: “Majulah kalian”. Maka mereka pun mendahului beliau. Lalu beliau berkata kepadaku: “Ayo, kita berlomba lari”. Kata ‘Aisyah: “Aku berusaha mendahului beliau namun beliau dapat mengalahkanku”. Mendapatkan hal itu, beliau pun tertawa seraya berkata: “Ini sebagai balasan lomba yang lalu (kedudukannya seri, red).” (<strong>HR. Abu Dawud</strong> no. 2214. Asy-Syaikh Muqbil menshahihkan sanad hadits ini dalam takhrij beliau terhadap<strong> Tafsir Ibnu Katsir</strong>, 2/286).</p>
<p>Allah<em> Ta`ala</em> Yang Maha Adil menciptakan wanita dengan segala kekurangan dan kelemahannya. Ia butuh dibimbing dan diluruskan karena ia merupakan makhluk yang diciptakan dari tulang yang bengkok. Namun meluruskannya butuh kelembutan dan kesabaran agar ia tidak patah.</p>
<p style="line-height:350%;" align="right"><span style="font-family:Traditional Arabic;font-size:x-large;">المرْأَةُ كَالضِّلَعِ إِنْ أَقَمْتَهَا كَسَرْتَهَا, وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اِسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيْهَا عِوَجٌ</span></p>
<p>“<em>Wanita itu seperti tulang rusuk, bila engkau meluruskannya engkau akan mematahkannya. Dan bila engkau ingin bersenang-senang dengannya, engkau dapat bersenang-senang dengannya namun pada dirinya ada kebengkokan</em>.”</p>
<p>Demikian disabdakan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>dalam hadits yang diriwayatkan <strong>Al-Imam Al-Bukhari</strong> dalam <strong>Shahih</strong>-nya (no. 5184) dan <strong>Al-Imam Muslim</strong> dalam <strong>Shahih</strong>-nya (no. 1468). Dan hadits ini diberi judul bab oleh Al-Imam Al-Bukhari dengan bab Al-Mudarah ma`an Nisa (Bersikap baik, ramah dan lemah lembut terhadap para istri).</p>
<p>Rasul yang mulia, <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>, juga bersabda:</p>
<p style="line-height:350%;" align="right"><span style="font-family:Traditional Arabic;font-size:x-large;">وَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاهُ, فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهُ كَسَرْتَهُ, وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ فَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا</span></p>
<p>“<em>Berwasiatlah kalian kepada para wanita (istri) karena mereka itu diciptakan dari tulang rusuk. Dan bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah bagian yang paling atas. Bila engkau paksakan untuk meluruskannya, maka engkau akan mematahkannya. Namun bila engkau biarkan begitu saja (tidak engkau luruskan) maka dia akan terus menerus bengkok. Karena itu berwasiatlah kalian kepada para wanita (istri).</em>” (<strong>Shahih, HR. Al-Bukhari</strong> no. 5186 dan <strong>Muslim </strong>no. 1468)</p>
<p>Dalam riwayat Muslim disebutkan:</p>
<p style="line-height:350%;" align="right"><span style="font-family:Traditional Arabic;font-size:x-large;">وَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهُ كَسَرْتَهُ وَكَسْرُهَا طَلاقُهَا</span></p>
<p>“<em>Dan bila engkau paksakan untuk meluruskannya, maka engkau akan mematahkannya. Dan patahnya adalah dengan menceraikannya</em>.”</p>
<p><strong>Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-’Asqalani</strong> <em>rahimahullah </em>berkata: “Sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>(فَاسْتَوْصُوْا) maksudnya adalah aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik dengan para wanita (istri). Maka terimalah wasiatku ini berkenaan dengan diri mereka, dan amalkanlah.”</p>
<p>Beliau melanjutkan: “Dan dalam sabda Nabi (بِالنِّسَاءِ خَيْرًا ) seakan-akan ada isyarat agar suami meluruskan istrinya dengan lembut, tidak berlebih-lebihan hingga mematahkannya. Dan tidak pula membiarkannya hingga ia terus menerus di atas kebengkokannya.” (<strong>Fathul Bari</strong>, 9/306)</p>
<p>Dalam hadits ini juga ada beberapa faidah, di antaranya disukai untuk bersikap baik dan lemah lembut terhadap istri untuk menyenangkan hatinya. Di dalam hadits ini juga menunjukkan bagaimana mendidik wanita dengan memaafkan dan bersabar atas kebengkokan mereka. Siapa yang tidak berupaya meluruskan mereka (dengan cara yang halus), dia tidak akan dapat mengambil manfaat darinya. Padahal, tidak ada seorang pun yang tidak butuh dengan wanita untuk mendapatkan ketenangan bersamanya dan membantu dalam kehidupannya. Hingga seakan-akan Nabi mengatakan: “Merasakan kenikmatan dengan istri tidak akan sempurna kecuali dengan bersabar terhadapnya”. Dan satu faidah lagi yang tidak boleh diabaikan adalah tidak disenangi bagi seorang suami untuk menceraikan istrinya tanpa sebab yang jelas. (Lihat <strong>Fathul Bari</strong>, 9/306, <strong>Syarah Shahih Muslim</strong>, 10/57)</p>
<p>Dengan adanya tuntunan beliau di atas, seyogyanya seorang suami menjalankan tugasnya sebagai pemimpin dengan penuh kelembutan dan kasih sayang kepada istri dan keluarganya yang lain. Sebagaimana istrinya pun diperintah untuk taat kepadanya dalam perkara yang baik, sehingga akan terwujud ketenangan di antara keduanya dan abadilah ikatan cinta dan kasih sayang.</p>
<p style="line-height:350%;" align="right"><span style="font-family:Traditional Arabic;font-size:x-large;">وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِتَسْكُنُوْا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً</span></p>
<p>“<em>Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan untuk kalian istri-istri (pasangan hidup) dari jenis kalian agar kalian merasakan ketenangan bersamanya dan Dia menjadikan cinta dan kasih sayang di antara kalian</em>.” (<strong>Ar-Rum: 21</strong>)</p>
<p style="line-height:350%;" align="right"><span style="font-family:Traditional Arabic;font-size:x-large;"><br />
هُوَ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا</span></p>
<p>“<em>Dialah yang menciptakan kalian dari jiwa yang satu dan Dia menjadikan pasangan dari jiwa yang satu itu, agar jiwa tersebut merasa tenang bersamanya</em>.” (<strong>Al-A`raf: 189</strong>)</p>
<p>Demikian kemuliaan dan kelembutan Islam yang menuntut pengamalan dari kita sebagai insan yang mengaku tunduk kepada aturan Ilahi<em> Wallahu ta`ala a`lam bish-shawab.</em></p>
<br />Posted in Keluarga Sakinah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arofah89.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arofah89.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arofah89.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arofah89.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arofah89.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arofah89.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arofah89.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arofah89.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arofah89.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arofah89.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arofah89.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arofah89.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arofah89.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arofah89.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arofah89.wordpress.com&amp;blog=6888714&amp;post=37&amp;subd=arofah89&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arofah89.wordpress.com/2009/03/26/dalam-labuhan-lembutnya-kasihmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">arofah89</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Khadijah bintu Khuwailid: Penopang Duka Khairul Anam</title>
		<link>http://arofah89.wordpress.com/2009/03/26/khadijah-bintu-khuwailid-penopang-duka-khairul-anam/</link>
		<comments>http://arofah89.wordpress.com/2009/03/26/khadijah-bintu-khuwailid-penopang-duka-khairul-anam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Mar 2009 17:06:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arofah89</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi dan Sirah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arofah89.wordpress.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&#38;id_online=8<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arofah89.wordpress.com&amp;blog=6888714&amp;post=35&amp;subd=arofah89&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Penulis: <span class="fnu">Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran</span></em></p>
<p><span class="fnu">Siapakah yang menyangka saat itu, keharuman pribadinya kelak akan merebak di sepanjang sejarah Islam di setiap dada kaum muslimin? Siapakah yang menyangka, bahwa wanita yang mulia ini akan mendapatkan sebuah keutamaan yang besar yang telah ditetapkan Allah baginya? Siapakah yang menyangka, wanita cantik jelita ini akan mendampingi manusia yang paling mulia dalam rentang awal perjalanan dakwahnya? Siapakah yang menyangka saat itu…?</span></p>
<p>Muslimin manakah yang tak pernah mendengar sebutan namanya? Khadijah bintu Khuwailid bin Asad bin ‘Abdil ‘Uzza bin Qushay Al-Qurasyiyah Al-Asadiyah radhiyallahu‘anha yang tercatat sebagai istri Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam sekaligus wanita pertama yang membenarkan pengangkatan Muhammad Shallallahu `alaihi Wasalam sebagai nabi dan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya Shallallahu `alaihi Wasalam.</p>
<p><span class="fnu">Sebelumnya dia dikenal sebagai seorang wanita yang menjaga kehormatan dirinya sehingga melekatlah sebutan ath-thaahirah pada dirinya. Dia seorang janda dari suaminya yang terdahulu, Abu Halah bin Zararah bin an-Nabbasy bin ‘Ady at-Tamimi, kemudian menikah dengan ‘Atiq bin ‘A`idz bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Makhzum. Saat dia kembali menjanda, seluruh pemuka Quraisy mengangankan agar dapat menyuntingnya.<br />
</span></p>
<p><span class="fnu">Sebagaimana umumnya Quraisy yang hidup sebagai pedagang, Khadijah radhiyallahu‘anha adalah wanita pedagang yang mulia dan banyak harta. Tiada yang mengira, ternyata pekerjaannya itu akan mengantarkan pertemuannya dengan manusia yang paling mulia, Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam.</span></p>
<p>Ia memberikan tawaran kepada seorang pemuda bernama Muhammad Shallallahu `alaihi Wasalam untuk membawa hartanya ke Syam, disertai budaknya yang bernama Maisarah. Perdagangan yang dibawa oleh Muhammad Shallallahu `alaihi Wasalam itu memberikan keuntungan yang berlipat. Tak hanya itu, Maisarah pun membawa buah tutur yang mengesankan tentang diri Muhammad Shallallahu `alaihi Wasalam.</p>
<p><span class="fnu">Penuturan Maisarah membekas dalam hati Khadijah radhiyallahu`anha. Dia pun terkesan pada kejujuran, amanah, dan kebaikan akhlak Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam. Tersimpan keinginan yang kuat dalam dirinya untuk memperoleh kebaikan itu, hingga diutuslah seseorang untuk menjumpai beliau dan menyampaikan hasratnya. Dia tawarkan dirinya untuk dipersunting Muhammad Shallallahu `alaihi Wasalam, seorang pemuda yang saat itu berusia dua puluh lima tahun. Gayung pun bersambut.</span></p>
<p>Namun, ayah Khadijah enggan untuk menikahkannya. Khadijah, wanita yang cerdas itu tak tinggal diam. Ia tak ingin terluput dari kebaikan yang telah bergayut dalam angannya. Dibuatnya makanan dan minuman, diundangnya ayah beserta teman-temannya dari kalangan Quraisy. Mereka pun makan dan minum hingga mabuk. Saat itulah Khadijah mengemukakan kepada ayahnya, “Sesungguhnya Muhammad bin ‘Abdillah telah mengkhitbahku, maka nikahkanlah aku dengannya.” Dinikahkanlah Khadijah dengan Muhammad Shallallahu `alaihi Wasalam, dan segera Khadijah memakaikan wewangian dan perhiasan pada diri ayahnya, sebagaimana kebiasaan mereka pada saat itu.</p>
<p>Tatkala sadar dari mabuknya, ayah Khadijah mendapati dirinya mengenakan wewangian dan perhiasan. Ia bertanya keheranan, “Mengapa aku? Apa ini?” Khadijah berkata kepada ayahnya, “Engkau telah menikahkanku dengan Muhammad bin ‘Abdillah.” Ayahnya pun berang, “Apakah aku akan menikahkanmu dengan anak yatim Abu Thalib? Tidak, demi umurku!” Khadijah menjawab, “Apakah engkau tidak malu, engkau ingin menampakkan kebodohanmu di hadapan orang-orang Quraisy dengan menyatakan kepada mereka bahwa engkau saat itu menikahkanku dalam keadaan mabuk?” Tak henti-henti Khadijah berucap demikian hingga ayahnya ridha.<br />
Wanita jelita itu, Khadijah radhiyallahu‘anha, mendapati kembali belahan hatinya dalam usia empat puluh tahun. Tergurat peristiwa ini dalam sejarah lima belas tahun sebelum Muhammad Shallallahu `alaihi Wasalam diangkat sebagai nabi.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta`ala telah menentukan Khadijah radhiyallahu`anha mendampingi seorang nabi. Awal mula wahyu turun kepada Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam berupa mimpi yang baik yang datang dengan jelas seperti munculnya cahaya subuh. Kemudian Allah jadikan beliau Shallallahu `alaihi Wasalam gemar menyendiri di gua Hira’, ber-tahannuts beberapa malam di sana. Lalu biasanya beliau kembali sejenak kepada keluarganya untuk menyiapkan bekal. Demikian yang terus berlangsung, hingga datanglah al-haq, dibawa oleh seorang malaikat.</p>
<p>Peristiwa ini sangat mengguncang hati Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam. Bergegas-gegas beliau kembali menemui Khadijah radhiyallahu`anha dalam keadaan takut dan berkata, “Selimuti aku, selimuti aku!” Diselimutilah Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam hingga beliau merasa tenang dan hilang rasa takutnya. Kemudian mulailah beliau mengisahkan apa yang terjadi pada dirinya. Beliau mengatakan kepada Khadijah, “Aku khawatir terjadi sesuatu pada diriku.”</p>
<p>Mengalirlah tutur kata penuh kebaikan dari lisan Khadijah radhiyallahu`anha, membiaskan ketenangan dalam dada suaminya, “Tidak, demi Allah. Allah tidak akan merendahkanmu selama-lamanya. Sesungguhnya engkau adalah seorang yang suka menyambung kekerabatan, menanggung beban orang yang kesusahan, memberi harta pada orang yang tidak memiliki, menjamu tamu dan membantu orang yang membela kebenaran.”</p>
<p><span class="fnu">Lalu Khadijah radhiyallahu`anha membawa suaminya menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin ‘Abdil ‘Uzza, anak paman Khadijah radhiyallahu`anha, seorang yang beragama Nashrani pada masa itu dan telah menulis al-Kitab dalam bahasa Ibrani. Dia adalah seorang laki-laki yang lanjut usia dan telah buta. Khadijah radhiyallahu`anha berkata padanya, “Wahai anak pamanku, dengarkanlah penuturan anak saudaramu ini.” Waraqah pun bertanya, “Wahai anak saudaraku, apa yang engkau lihat?”<br />
</span></p>
<p><span class="fnu">Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam menuturkan pada Waraqah apa yang beliau lihat. Setelah itu, Waraqah mengatakan, “Itu adalah Namus yang Allah turunkan kepada Musa. Aduhai kiranya aku masih muda pada saat itu! Aduhai kiranya aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu!” Mendengar itu, Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam bertanya, “Apakah mereka akan mengusirku?” Waraqah menjawab, “Ya. Tidak ada seorang pun yang membawa seperti yang engkau bawa kecuali pasti dimusuhi. Kalau aku menemui masa itu, sungguh-sungguh aku akan menolongmu.” Namun tak lama kemudian, Waraqah meninggal.<br />
</span></p>
<p><span class="fnu">Inilah kiprah pertama Khadijah bintu Khuwailid radhiyallahu`anha semenjak masa nubuwah. Dia pulalah orang pertama yang shalat bersama Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam dan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu`anha. Terus mengalir dukungan dan pertolongan Khadijah radhiyallahu`anha kepada Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam dalam menghadapi kaumnya. Setiap kali beliau mendengar sesuatu yang tidak beliau sukai dari kaumnya, beliau menjumpai Khadijah radhiyallahu`anha. Lalu Khadijah pun menguatkan hati beliau, meringankan beban yang beliau rasakan dari manusia.<br />
</span></p>
<p><span class="fnu">Tak hanya itu kebaikan Khadijah radhiyallahu`anha. Dia berikan apa yang dimiliki kepada suami yang dicintainya. Bahkan ketika Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam menampakkan rasa senangnya pada Zaid bin Haritsah, budak yang berada di bawah kepemilikannya, Khadijah pun menghibahkan budak itu kepada suaminya. Inilah yang mengantarkan Zaid memperoleh kemuliaan menjadi salah satu orang yang terdahulu beriman.</span></p>
<p>Dialah Khadijah bintu Khuwailid radhiyallahu`anha. Kemuliaan itu telah diraihnya semenjak ia masih ada di muka dunia. Tatkala Jibril `Alaihis Salam datang kepada Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam dan mengatakan, “Wahai Rasulullah, ini dia Khadijah. Dia akan datang membawa bejana berisi makanan atau minuman. Bila ia datang padamu, sampaikanlah salam padanya dari Rabbnya dan dariku, dan sampaikan pula kabar gembira tentang rumah di dalam surga dari mutiara yang berlubang, yang tak ada keributan di dalamnya, dan tidak pula keletihan.”</p>
<p>Tiba pungkasnya masa Khadijah radhiyallahu`anha mendampingi suaminya yang mulia. Khadijah radhiyallahu`anha kembali kepada Rabbnya `Azza wa Jalla, tak lama berselang setelah meninggalnya Abu Thalib, paman Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam. Tahun itu menjadi tahun berduka bagi Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam. Kaum musyrikin pun semakin berani mengganggu beliau sampai akhirnya Allah perintahkan beliau untuk meninggalkan Makkah menuju negeri hijrah, Madinah, tiga tahun setelah itu.</p>
<p><span class="fnu">Khadijah bintu Khuwailid radhiyallahu`anha. Kemuliaannya, kebaikannya dan kesetiaannya senantiasa dikenang oleh Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam hingga merebaklah kecemburuan ‘Aisyah radhiyallahu`anha, “Bukankah dia itu hanya seorang wanita tua yang Allah telah mengganti bagimu dengan yang lebih baik darinya?” Perkataan itu membuat Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam marah, “Tidak, demi Allah. Tidaklah Allah mengganti dengan seseorang yang lebih baik darinya. Dia beriman ketika manusia mengkufuriku, dia membenarkan aku ketika manusia mendustakanku, dia memberikan hartanya padaku saat manusia menahan hartanya dariku, dan Allah memberikan aku anak darinya yang tidak diberikan dari selainnya.”<br />
</span></p>
<p><span class="fnu">Khadijah bintu Khuwailid radhiyallahu`anha. Kemuliaan itu telah dijanjikan melalui lisan mulia Rasulullah Shallallahu `alaihi Wasalam, “Wanita ahli surga yang paling utama adalah Khadijah bintu Khuwailid, Fathimah bintu Muhammad Shallallahu `alaihi Wasalam, Maryam bintu ‘Imran, dan Asiyah bintu Muzahim istri Fir’aun.” Semoga Allah meridhainya.<br />
Wallahu ta`ala a’lamu bish-shawab.</span></p>
<p>(Hadiah untuk putriku tersayang, Khadijah bintu Abi Ishaq, untuk suamiku tercinta dan untuk istri-istri suamiku yang mulia)</p>
<p>(Disusun oleh Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran)</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA:<br />
Al-Ishabah, Al-Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani<br />
Mukhtashar Sirah ar-Rasul, Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab<br />
Shahih Al-Bukhari, Al-Imam Al-Bukhari<br />
Shahih As-Sirah An-Nabawiyah, Asy-Syaikh Ibrahim Al-‘Aly<br />
Siyar A’lamin Nubala’, Al-Imam Adz-Dzahabi</p>
<br />Posted in Biografi dan Sirah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arofah89.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arofah89.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arofah89.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arofah89.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arofah89.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arofah89.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arofah89.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arofah89.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arofah89.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arofah89.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arofah89.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arofah89.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arofah89.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arofah89.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arofah89.wordpress.com&amp;blog=6888714&amp;post=35&amp;subd=arofah89&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arofah89.wordpress.com/2009/03/26/khadijah-bintu-khuwailid-penopang-duka-khairul-anam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">arofah89</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
